IP tinggi hasil SKS, berkualitaskah ?


oleh : Deva Gama Rizky Octavia


 Mendengar kata mahasiwa pasti identik dengan pemuda-pemudi stylies,fashionable, millennial, modern, dan berbahasa gaul serta idealis. Mahasiswa pasti tak lepas dari sebuah pencapaian-pencapaian mereka salah satunya pencapaian yang diapat melalui indeks prestasi (IP). IP sendiri merupakan sistem penilaian yang dipakai di perguruan tinggi. Berbeda dengan SMA.  Pada saat ini dikalangan mahasiwa, mendapatkan IP yang tinggi merupakan suatu pencapaian yang berkelas. Pandangan bahwa mendapatkan IP bagus dapat membuat prestise mahasiwa lebih tinggi, membuat seakan tujuan mahasiswa sebagai sesesorang yang berstatus menuntut ilmu kini berbelok arah menjadi seseorang yang menuntut IP. Disamping itu, yang miris adalah kenyataan di sekeliling kita bahwa sebuah lembaran transkip nilai yang bagus lebih dihargai daripada prosesnya.

 Sebenarnya tidak ada salahnya kita sebagai seorang mahasiswa berusaha ingin mendapatkan IP tinggi. Namun pertanyaan terbesarnya adalah apakah cara kita mendapatkan IP tinggi itu berkualitas atau tidak? Ini yang menjadi petanyaan terbesar saya dan terus berlarut-larut. Pertanyaan  ini mengingatkan saya dengan perkataan seorang  dosen  yang mengatakan,” sistem SKS itu sangat efektif untuk belajar dan agar kalian dapat menghafal pelajaran di luar kepala”. Lalu timbul pertanyaan baru, ada apa dengan SKS (Sistem Kebut Semalam)? Megapa ia begitu efektif? Apakah dengan mengandalkan sistem SKS  dapat membuat kita menjadi lulusan yang berkualitas?

Terkadang banyak orang yang suka berfikir untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya dengan usaha sekecil-kecilnya. Mulai dari situlah tercetus ide yang bernama SKS. Sebagaimana yang kita ketahui, SKS atau akronim dari Sistem Kebut Semalam merupakan cara atau metode belajar yang sudah tidak asing lagi di kalangan mahasiswa. Sistem ini merupakan sistem  belajar ekstra cepat yang baru dilakukan H-1 sebelum ujian. Mahasiswa yang menggunakan sistem belajar ini akan mati-matian  mempelajari materi ujian hingga rela mengorbankan waktu istirahat, atau bahkan tidak istirahat sama sekali.

Beberapa kalangan mahasiswa menganggap bahwa sistem ini merupakan cara yang efektif terutama bagi mahasiswa yang terlalu sibuk dengan urusan selain kuliah dan bagi mereka yang kurang memiliki minat serta keinginan belajar. Ada beberapa mahasiswa yang menganggap percuma mempelajari materi jauh jauh hari karena pada akhirnya materi yang dipelajari berangsur-angsur akan lupa termakan waktu. Menurut saya, anggapan seperti ini sepenuhnya salah, karena dengan menyicil materi pelajaran secara terus menerus, lama kelamaan akan ada materi yang menyangkut di dalam otak kita. Jadi, pada saat H-1, hal yang perlu kita lakukan hanyalah mereview kembali materi yang sudah kita pelajari. Dengan mereview materi yang kita pelajari maka waktu yang kita butuhkan akan lebih singkat dan daya serap kita akan lebih baik karena tidak terlalu terbebani waktu serta materi akan tersimpan lebih lama didalam otak. Berbeda apabila kita menggunakan SKS. 

Sesungguhnya, materi yang dipelajari dengan sistem SKS, akan dilupakan dalam sekejap karena dasarnya kita hanya menghafal namun tidak memahami. Sayangnya, selama ini sekolah/universitas kita memang terbiasa menilai kepintaran siswa/mahasiswanya nyaris dari nilai pelajaran saja. Simpelnya, yang dilihat adalah hasil dari memori jangka pendek, bukan jangka panjang.  Padahal pepatah juga tahu bahwa seorang bajak laut yang handal itu tidak akan lahir dari ombak yang biasa-biasa saja. Artinya, kalau kita ingin maju, kita memang harus bersusah-susah terlebih dahulu baru bersenang-senang. Kita ini calon sarjana, untuk apa menghafal tanpa memahami? Calon sarjana yang berkualitas itu adalah yang memahami materi, bukan menghafal materi.

Oleh sebab itu, perlunya diri kita untuk tidak membudidayakan Sistem Kebut Semalam ini. Karena biasanya, para ahli Sistem Kebut Semalam ini adalah mereka yang sering menunda-nunda. Walaupun terkadang ada  segelintir mahasiswa yang mendapatkan IP tinggi melalui SKS ini, namun hal tersebut tidak serta merta melabelkan mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa yang sudah paham dengan materi yang sudah diajarkan. 

Jadi, kembali lagi kepada diri kita masing-masing, apakah kita ingin mencapai IP yang berkualitas atau tidak. Semua ada pada diri masing-masing. Seribu motivasi yang kita terima semuanya akan bermuara kepada diri kita sendiri. Rasanya percuma mendapatkan seribu motivasi namun dalam diri kita sendiri enggan untuk menerima hal tersebut. Terimaksih telah membaca artikel sayaaa..

Komentar

Posting Komentar